Arena Pertunjukan

27 Jun
0 comment

Arena Pertunjukan; Dunia ini bisa diibaratkan sebuah arena pertunjukan: apakah kita sebagai penontonnya yang harus membayar tiket pertunjukannya, ataupun sebagai pemain yang dibayar dalam pertunjukan tersebut. Pilihannya ada di tangan kita.

Akan tetapi keduanya memiliki konsekuensi masing-masing yang berbeda. Kalau kita memilih sebagai penonton, di mana kita tidak akan banyak mendapatkan tuntutan dari peran kita tersebut (tinggal membayar tiket, kemudian duduk manis menunggu pertunjukan dimulai). Namun apabila kita memilih sebagai ‘pemain’ di dalam arena pertunjukan, akan berbeda ceritanya (kita dituntut untuk memberikan aksi terbaik bagi para penonton, karena penonton sudah membayar kita). Kalau kita memberikan aksi yang buruk di mata para penonton, bisa dibayangkan respon seperti apa yang akan kita dapatkan sebagai pemain. Mungkin mereka tak segan-segan untuk mencaci para pemain karena tidak memberikan aksi yang sesuai dengan harapan mereka.

Oleh karena itu, kehidupan sebagai pemain lebih banyak memiliki tuntutan yang harus dijalani, dibandingkan hidup sebagai penonton. Agar mereka tidak mengecewakan penonton di setiap aksinya, para pemain dituntut untuk terus bekerja keras dalam jangka waktu yang panjang. Tak hanya melatih fisik mereka, tetapi yang lebih penting melatih mental mereka agar pertunjukan yang mereka berikan dapat memuaskan para penonton.

Banyak dari kita memilih peran sebagai penonton karena tidak banyak tuntutan yang harus kita jalani. Hidup jauh lebih mudah menjalani peran tersebut. Tetapi pertanyaannya: peran apa yang akan jauh lebih dihargai dan diberi imbalan yang besar?

 

Tips-Tips agar sukses di ‘panggung pertunjukan’ dunia:

  1. Ingat, kehidupan kita di dunia ini sangatlah singkat, maka pikirkanlah peran terbaik apa yang akan kita mainkan, di mana peran tersebut membuat banyak orang merasakan kontribusi terbaik kita.
  2. Pikirkan kontribusi terbaik apa yang bisa kita berikan kepada sesama, karena manusia menilai diri kita dari banyaknya dampak positif yang bisa kita berikan kepada kehidupan mereka, bukan dari drama yang kita buat.
  3. Kontribusi terbaik kita berkaitan langsung dengan apa yang kita bisa berikan dari potensi terbaik yang kita miliki berupa bakat dan minat kita, karena bakat dan minat yang kita miliki adalah pemberian Tuhan agar kita bisa memberikan kontribusi terbaik bagi sesama makhluk ciptaan-Nya.
  4. Sadari bahwa orang terakhir yang dengan setia mendampingi dan membantu kita adalah keluarga dan pasangan hidup. Bahkan di saat kita semakin tua, ketika diri ini tak dilirik dan diminati lagi oleh orang-orang.

( sumber rujukan: https://www.kompasiana.com/amp/tjiptadinataeffendi21may43/5ae3d45cab12ae47a7718132/yang-terakhir-mendampingi-kita-adalah-pasangan-hidup-kita )

Leave your thought