FLEXING Suka Pamer

29 May
0 comment

FLEXING Suka Pamer; Kadang kita terlalu cepat mengagumi seseorang hanya dari wujud penampilan luarnya semata seperti kekayaannya, kecantikannya, kegantengannya, dan juga dari kepandaian mereka berkata-kata. Padahal kita tidak cukup mengetahui ‘asli’ nya mereka, apalagi dengan adanya media sosial yang membuat setiap orang seperti memiliki panggungnya masing-masing untuk menceritakan betapa hebatnya diri mereka – dan itu ‘sah’ saja untuk mereka lakukan.

Kita sering terjebak kepada penampilan luar dan orang yang bermulut manis karena membuat diri kita terlena. Kita ingin menjadi seperti mereka. Kita cepat sekali percaya akan pertunjukkan yang mereka sajikan di media sosial. Dan ketika Tuhan sedikit demi sedikit membuka ‘aib’ yang mereka miliki, barulah kita sadar bahwa selama ini kita tertipu keindahan yang mereka perlihatkan. Ternyata semua itu hanyalah fatamorgana semata yang bisa menjebak diri kita kapan saja.

Oleh karena itu, janganlah kita cepat untuk mengagumi, apalagi sampai mengidolakan seseorang tanpa kita mengenal siapa pribadi orang tersebut yang sesungguhnya. Informasi yang kita ketahui tentang mereka hanya berdasarkan apa yang disajikan oleh media sosial tanpa kita mengenal rekam jejak mereka terlebih dahulu. Padahal tidak ada kesuksesan yang bisa diraih secara instan. Yang instan tetaplah hanya mie, bihun, kopi, dkk.

Boleh jadi apa yang kamu sukai itu (ternyata) buruk bagimu, dan apa yang kamu tidak sukai itu baik bagimu.

 

Tips-Tips agar kita tidak terjebak dengan gaya hidup flexing:

  1. Terpukaulah hanya dengan prestasi dan karya seseorang, bukan dari materi, jabatan atau fisik yang mereka pamerkan di media sosial, karena kita tidak mengenal pribadi asli dari orang tersebut.
  2. Perhatikan track record (rekam jejak) mereka secara hati-hati, jangan cepat mengambil kesimpulan untuk segera mengidolakan seseorang apalagi di media sosial – siapa tahu itu hanyalah topeng yang mereka gunakan untuk menipu
  3. Orang hebat sejati tidak akan pernah merasa bahwa dia itu hebat, justru dia akan malu dengan pujian yang menyanjung dirinya karena dia tahu pujian hanya akan melenakan dirinya untuk dapat terus berprestasi. Maka dia tidak merasa perlu mengumbarnya di media sosial.
  4. Pakar pemasaran, Martin Lindstrom, menjelaskan bahwa anak-anak dengan kepercayaan diri rendah akan lebih mengandalkan (memakai) barang-barang high-end ketimbang mereka dengan rasa percaya diri yang tinggi. Oleh karenanya, jadilah orang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi agar tidak ‘termakan’ Flexing.

( sumber: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20220328101257-33-326465/fenomena-flexing-kekayaan-tanda-benar-benar-hidup-bahagia

Leave your thought