MENJADI PEMAIN ATAU PENONTON

22 May
0 comment

MENJADI PEMAIN ATAU PENONTON;

Dunia nyata bisa diibaratkan sebuah arena pertunjukan, apakah kita sebagai penontonnya yang harus membayar tiket pertunjukannya, ataupun sebagai pemain yang dibayar dalam pertunjukan tersebut -pilihan ada di tangan masing-masing.

Akan tetapi keduanya memiliki konsekuensinya masing-masing yang berbeda: kalau kita memilih sebagai penonton, memang kita tidak akan banyak mendapatkan tuntutan dari peran kita tersebut. Kita tinggal membayar tiket, kemudian duduk manis menunggu pertunjukan dimulai. Namun kalau kita memilih sebagai ‘pemain’ di dalam arena pertunjukan, akan beda lagi ceritanya -kita dituntut untuk memberikan aksi terbaik bagi para penonton, karena penonton sudah membayar kita.

Seandainya kita memberikan aksi yang buruk di mata para penonton, bisa dibayangkan respon seperti apa yang akan kita dapatkan. Mungkin mereka tak segan-segan untuk mencaci-maki para pemain karena tidak memberikan aksi yang sesuai dengan harapan mereka.

Oleh karena itu, kehidupan sebagai pemain lebih banyak memiliki tuntutan yang harus dijalani, dibandingkan hidup sebagai penonton. Para pemain dituntut untuk terus bekerja keras dalam jangka waktu yang panjang. Bukan hanya melatih fisik mereka, tetapi yang lebih penting adalah melatih mental mereka agar pertunjukan yang mereka berikan dapat memuaskan para penonton.

Banyak dari kita memilih peran sebagai penonton dikarenakan tidak banyaknya tuntutan yang harus kita jalani -hidup jauh lebih mudah kalau hanya menjalani peran tersebut.

Tips-Tips agar kita bangkit dan berperan penting dalam hidup ini:

  1. Ingat, kehidupan kita di dunia ini sangatlah singkat. Maka pikirkanlah peran terbaik apa yang akan kita mainkan, di mana peran tersebut membuat banyak orang merasakan kontribusi terbaik kita.
  2. Pikirkan kontribusi terbaik apa yang bisa kita berikan kepada sesama, karena manusia menilai diri kita dari banyaknya dampak positif yang bisa kita berikan kepada kehidupan mereka, bukan dari drama yang kita buat.
  3. Kontribusi terbaik kita berkaitan langsung dengan apa yang kita bisa berikan dari potensi terbaik yang kita miliki berupa bakat dan minat kita, karena bakat dan minat yang kita miliki adalah pemberian Tuhan agar kita bisa memberikan kontribusi terbaik bagi sesama mahluk ciptaan-Nya.
  4. Hari Kebangkitan Nasional memberikan banyak pelajaran bagi kita, bahwa ternyata walau dalam kondisi sedang dijajah sekalipun, rakyat memilih untuk bangkit bergerak, dan ikut berperan dalam usaha memerdekakan negeri ini.
  5. Tak masalah kalau pernah terjatuh, gagal, dan mengalami keterpurukan. Namun, kita tidak bisa berlarut-larut tenggelam dalam keterpurukan tersebut. Coba bangkitkan motivasi untuk diri sendiri dengan cara menyadari realitas yang terjadi.

( sumber: https://www.idntimes.com/life/inspiration/marissa-zefanya/tips-ampuh-bangkit-dari-keterpurukan-c1c2 )

Leave your thought