ANAK SUKA MELAWAN

25 Mar
0 comment

ANAK SUKA MELAWAN;

Anak yang suka melawan kepada orang tuanya harus menjadi ‘alarm’ bagi para orang tua, bahwa ada yang salah dengan cara kita, sebagai orang tua, mendidik mereka.

Atau jangan-jangan (mungkin) kita tak pernah mendidik anak-anak kita sama sekali karena kita serahkan sepenuhnya ke pihak lain yang kita pikir akan lebih baik dalam mendidik si buah hati. Kita merasa tidak punya kemampuan dalam mendidik anak-anak kita, merasa tidak memiliki kompetensi dalam mendidik mereka, sehingga kita lupa tugas utama kita sebagai orang tua: mendidik anak-anak kita sendiri.

Kita merasa sudah membahagiakan anak dengan cara mencukupi mereka dengan materi semata, tetapi lupa pendidikan utama yang mereka butuhkan seperti pendidikan budi pekerti, bakat-minat, agama mereka; yang semua itu sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita. Penulis menyadari semua ini setelah menerima konsultasi dari banyak orang tua murid yang memiliki anak-anak yang suka ‘melawan’. Dulu mereka mengira bahwa mencukupi kebutuhan materi anak itu sudah dapat mengantarkan anak kepada kesuksesan mereka di masa depan.

Padahal ada yang lebih penting dari itu semua: pembangunan karakter mereka. Inilah yang menjadi tanggung jawab sepenuhnya orang tua masing-masing. Namun, biasanya, orang tua yang memiliki materi ‘berlebih’ merasa tak perlu memikirkan hal itu –tinggal tunjuk saja orang yang mampu mendidik anaknya, beres! Sungguh, sehebat apa pun orang itu takkan pernah sehebat orang tua mereka sejatinya, karena orang tua lebih memiliki ‘ikatan batin’ yang kuat dengan anak-anaknya –anak kandungnya, darah dagingnya sendiri– yang tentu saja tak dimiliki oleh orang-orang yang dibayar untuk mendidik anak-anak kita.

Tips-Tips dalam mendidik anak agar mereka menghargai orang tuanya

  1. Tugas mendidik adalah tugas utama para orang tua, bukan tugas orang yang kita bayar agar mereka mau mendidik anak-anak kita, karena anak-anak kita takkan pernah merasakan ikatan batin yang sama dengan orang-orang bayaran itu.
  2. Jangan merasa bangga kepada orang yang berhasil mendidik anak-anak kita dengan baik, justru seharusnya kita malu karena mereka lebih berhasil mendidik anak-anak kita dibandingkan kita, orang tuanya.
  3. Paksa diri untuk selalu hadir menemani tumbuh-kembang anak-anak kita, karena waktu begitu cepat berlalu, ‘tiba-tiba’ anak kita tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak lagi membutuhkan orang tuanya, dan segera melupakan kita –akhirnya menitipkan kita, orang tuanya, ke panti jompo karena sudah renta– karena kita tidak pernah hadir dalam kehidupan mereka.
  4. Sering ajak anak ngobrol dan diskusi santai, jangan melulu perintah dan larangan! Masuki dunianya, selami kesukaan dan hobinya, maka anak-anak perlahan tapi pasti akan semakin percaya dan merasa punya ikatan yang lebih kuat dengan kita.

( sumber: https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/cara-mendidik-anak-yang-keras-kepala/ )

Leave your thought