Psikolog Terbaik bagi Anak

21 Jul
0 comment

Psikolog Terbaik bagi Anak;  Psikolog yang kita kenal (biasanya) adalah orang yang memiliki profesi sebagai psikolog, bertitel psikolog, yang pernah berkuliah di fakultas psikologi.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa kita, para orang tua, seharusnya menjadi psikolog terbaik bagi anak-anak kita? Meskipun kita tidak pernah kuliah di fakultas psikologi, tidak pula memiliki titel psikolog. Atau kita tidak memiliki pengetahuan layaknya seorang psikolog, akan tetapi bukankah kita berkewajiban untuk membantu tumbuh kembang anak-anak kita?

Apabila setiap orang tua ingin menjadi orang tua terbaik bagi anak-anaknya –bukan hanya memberikan hal yang sifatnya hanya materi saja, tetapi juga kepedulian kita, rasa sayang yang tulus tanpa adanya agenda lain, yaitu demi memenuhi ambisi kita sebagai orang tua kepada anak– maka kitalah, bukan orang lain, psikolog terbaik bagi anak-anak kita.

Terkadang orang tua tidak mau direpotkan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anaknya, karena (mungkin) masih banyak hal lain yang harus kita lakukan seperti pekerjaan dan karir yang menjadi fokus utamanya. Sedangkan hal lain seperti urusan yang berkaitan dengan masalah anak-anak, serahkan saja pada orang lain yang lebih kompeten mengurus masalah anak-anak seperti pihak sekolah, psikolog, psikiater, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya anak-anak lebih membutuhkan kehadiran orang tua mereka dalam proses tumbuh-kembangnya. Mereka lebih suka orang tua mereka meluangkan waktu bersama mereka, lebih senang kalau orang tua mengutamakan mereka di atas pekerjaannya. Andai para orang tua mau melakukan semua itu, maka anak-anak pun akan bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

Tetapi  kalau tidak mau melakukannya, dan masih berpikir bahwa kita, para orang tua, tidak kompeten dalam melakukannya, maka anak-anak kita akan sangat bergantung kepada orang lain dibandingkan kita, orang tuanya. Inikah yang kita inginkan? Apakah kita ingin anak-anak kita lebih menghargai orang lain daripada kita, orang tuanya? Hanya karena mereka pikir orang lain lebih peduli terhadap mereka. Maka hal berikut ini perlu kita perhatikan dengan penuh kesungguhan:

  1. Sadarilah bahwa yang dimaksud menjadi seorang psikolog di sini bukanlah profesinya, melainkan kita sebagai orang tua memiliki tingkat kepedulian yang tinggi kepada anak-anak kita dibandingkan orang lain yang bukan orang tua mereka.
  2. Menjadi psikolog terbaik bagi anak-anak kita tidak harus kuliah dulu sampai bergelar psikolog, tetapi cukup kita luangkan waktu untuk anak-anak kita seperti bercengkrama, yang sifatnya lebih mendekatkan hubungan kita dengan anak-anak kita –bagaimana kita bisa mengenal pribadi anak-anak kita kalau kita saja tidak meluangkan waktu untuk mereka?
  3. Tunjukkan kepedulian yang besar secara tulus dan penuh rasa kasih sayang kepada anak-anak kita tanpa ‘agenda terselubung’ lain yang merupakan ambisi kita kepada mereka.
  4. Orang tua tidak harus banyak bicara, ada waktunya untuk mendengarkan. Perhatikan kata-kata dan isyarat non-verbal yang mereka gunakan. Perhatikan juga nada, ekspresi dan bahasa tubuh yang mereka gunakan. Kita dapat mengetahui perasaan dan emosi mereka dari sana. Selain mendengarkan, kita juga dapat memberi masukan kepada anak agar mereka benar-benar merasa didengar dan diperhatikan.
  5. Alih-alih menjadi psikolog, jadilah contoh terbaik bagi anak-anak kita. Kalau kita ingin punya anak yang memiliki tutur kata dan sikap yang baik, maka sebagai orang tua kita harus mencontohkannya.

( sumber: https://health.detik.com/ibu-dan-anak/d-3421548/orang-tua-adalah-contoh-terbaik-anak-untuk-bersimpati

https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/alfon/tips-memahami-psikologi-anak/10 )

Leave your thought