Pendidikan Harus Fleksibel

08 Nov
0 comment

Pendidikan Harus Fleksibel; Fleksibilitas dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mental di era pandemi ini. Akan tetapi untuk anak, hal ini tidak mudah. Terlebih anak tinggal bersama orangtua yang juga harus beradaptasi dengan pola kerja dari rumah yang ternyata justru menuntut lebih banyak waktu.

Pemindahan proses belajar-mengajar dari sekolah ke rumah tanpa adaptasi materi kurikulum sangat menyulitkan dan membuat banyak orang tua maupun anak yang stres. Lalu timbul masalah, baik secara fisik maupun psikologis. Gejala ataupun keluhan seperti mata lelah, sakit pinggang dan punggung akibat terlalu lama duduk menghadap laptop, hape, tablet, dsb. mulai merebak.

Orang tua bingung kala mendampingi anak. Beban finansial untuk membeli kuota internet bertambah, konflik akibat pembagian gadget yang terbatas untuk keperluan satu rumah juga terjadi. Ini di perkotaan. Masih banyak daerah susah sinyal, atau kelompok ekonomi yang tak memungkinkan membeli gadget termasuk kuota-nya untuk pembelajaran daring.

Lalu, fleksibilitas macam apa yang dapat membantu kesejahteraan psikologis, dan bagaimana mewujudkannya?

  1. Memunculkan terlebih dahulu kesadaran bahwa ini adalah situasi yang tidak biasa, dan oleh karenanya tujuan dan proses pendidikan harus berubah. Kita tak lagi bisa berharap semua standar kompetensi yang ada di kurikulum tercapai. Para ahli tak ada yang bisa meramalkan dengan pasti kapan situasi ini berakhir. Maka sesegera mungkin lakukan adaptasi.
  2. Kurikulum tetap penting, namun penyederhanaan sangat dibutuhkan. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam bidang pelajaran harus diuraikan, lalu diterjemahkan ke dalam materi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Penguatan konteks ini sangat penting, terutama untuk menyingkat waktu anak berhadapan dengan layar gawai.
  3. Pendidikan yang kontekstual adalah konsep yang biasa dijalankan oleh para pegiat pendidikan alternatif. Materi dan metode banyak disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, mereka ini bisa menjadi sumber informasi untuk pengembangan kebijakan. Maka materi kontekstual ini menyangkut dua hal penting: keterampilan hidup (life skills) dan literasi.
  4. Salah satu keluhan anak-anak di era pandemi ini adalah soal tersitanya waktu mereka untuk tugas sekolah, yang kebanyakan materinya tidak nyambung dengan kegiatan sehari-hari. Masa ‘di rumah saja’ ini harusnya dimanfaatkan untuk mendorong anak lebih ‘melek’ terhadap berbagai keterampilan yang benar-benar dibutuhkannya. Materi hendaknya melibatkan anak dalam tugas rumah, mendorong anak untuk mengenal pekerjaan orangtua dan warga di daerahnya.
  5. Guru dan orang tua memegang peran penting dalam pendidikan di era pandemi ini, khususnya dalam menjaga kesejahteraan psikologis anak. Koordinasi dan komunikasi yang baik akan membantu belajar anak lebih optimal. Kedua belah pihak hendaknya menyadari bahwa peran mereka kini turut berubah. Selain sebagai fasilitator belajar, juga sebagai penjaga harapan anak. Kompetensi guru harus diuji untuk dapat mengenali kelebihan dan kebutuhan setiap siswa, serta mengkomunikasikannya dengan orangtua untuk membuat implementasi yang nyata, karena inilah makna pendidikan yang sesungguhnya.

( sumber: https://kumparan.com/karina-adistiana/pendidikan-yang-fleksibel-dan-kontekstual-di-era-pandemi-1tKun8byjID/full )

Leave your thought