Pendidikan Seks untuk Anak

13 Jun
0 comment

Pendidikan Seks untuk Anak; Masa pra-remaja dan masa remaja adalah usia krusial bagi anak, masa di mana mereka mengalami transisi hormonal yang kerap bikin labil, terutama menyangkut ketertarikan dengan lawan jenis.

Agar siap menghadapi masa seperti ini, anak harus selalu didampingi dan mendapat pendidikan seks sejak dini. Sejak kapan? Sejak balita… Ya, sejak balita..! Pendidikan seks itu sepanjang usia, karena setiap perkembangan usia itu ada tahapan-tahapannya: dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Dewasa masih perlu juga? Ya, karena banyak pasangan menikah tidak bahagia akibat kurangnya pendidikan seks.

Yang perlu diingat tentang pendidikan seks bagi balita adalah pengenalan anggota tubuh, terutama alat vital. Suasana pengajarannya pun harus menyenangkan, bisa dengan mendongeng. Sebab, pendidikan seks bukan sesuatu yang menyeramkan, apalagi tabu –rmungkin karena persepsi yang berkembang dalam masyarakat kita mendengar seks itu mengacu pada aktivitas seksual. Untuk anak-anak, cukup untuk memahami fungsi organ tubuh/alat vital, higienitas, dan sebagainya. Contoh: mengenalkan mulut. Untuk apa? Mungkin anak akan menjawab minum, makan, bicara, hingga mencium. ”Hah mencium? Mencium siapa? Jawab: mama dan papa.” Nah, di sini bisa disisipkan pendidikan seks, misalnya dengan pertanyaan: “Siapa yang tidak boleh dicium?” Orang tua dapat membuat kategori atau batasan, misalnya keluarga, itu pun hanya dapat mencium pipi. Sementara orang asing tidak boleh. Ini menjadi dasar pengetahuan untuk menghadapi dan membedakan pelecehan seksual nantinya.

Selanjutnya, kenalkan organ intim dan fungsi-fungsi serta hal terkait lainnya saat sedang menceboki dan sebagainya. ”Misalnya bagian depan seperti penis atau vagina. Gunanya apa? Untuk pipis, makanya harus bersih. ’Adik kalau diceboki mami harus bersih ya.’ Saat buang air besar, misalnya, anak juga bisa diajak ngobrol. “Pup-nya keluar dari mana? Oh, itu dubur namanya.” Bisa dijelaskan juga bahwa yang keluar itu adalah ampas makanan. Beritahu juga siapa saja yang boleh mencebokinya.

Anggota tubuh lain yang tak boleh terlewatkan adalah dada. Saat ibu dan anak perempuan mandi bersama, misalnya, bisa dimanfaatkan untuk pengenalan buah dada. “Kalau punya Adek masih rata, ya… tapi kalau sudah dewasa nanti, semua perempuan akan seperti Mama, akan menjadi besar.” Lalu perkenalkan juga fungsinya. Mungkin dia akan menjawab untuk menyusui. Jadi nanti dia akan memahami bahwa dada bukan sekadar erotis dan harus ditutupi, tapi fungsi utamanya adalah untuk menyusui. Barulah kemudian kita singgung pencegahan kejahatan; harus ditutup dan tidak boleh dipegang oleh siapa pun.
( sumber: https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/20/22401861/jangan-salah-pendidikan-seks-perlu-dimulai-sejak-balita?page=all )

Leave your thought