Agar Anak Curhat kepada Orang tuanya, Bukan Yang Lain

13 May
0 comment

Agar Anak ‘Curhat’ kepada Orang tuanya, Bukan Yang Lain; Ketika anak remaja sedang galau, ingin ‘curhat’… kepada siapakah mereka akan curhat?  Kepada orang tuanya kah..?  Hmm, yakin..?

Ternyata anak remaja cenderung curhat kepada teman-teman sebayanya daripada kepada orang tuanya, dan hal ini tentu saja membuat cemas orang tua. Bagaimana kalau diberi nasehat yang tidak benar, bahkan menyesatkan. Lantas, bagaimana caranya agar si anak remaja mau curhat ke orang tuanya?

  1. Ibu/Ayah bisa bercerita pada anak remajanya tentang masa lalu, saat masih remaja. Nantinya mereka akan berpikir tidak ada salahnya bercerita kepada orangtua sendiri.
  2. Jika sudah tahu masalah yang dihadapi anak remajanya, cobalah beri saran untuk menyelesaikan masalah itu. Mungkin bagi kita masalah itu tampak sepele, tetapi mungkin saja berat bagi mereka.
  3. Orang tua perlu sering-sering ngobrol dengan anak remajanya. Berbicara hal-hal yang sepele dan ringan terkadang membantu menciptakan hubungan yang lebih erat.
  4. Kalau anak remaja sudah mengakui kesalahan dan minta maaf, sebaiknya jangan reaktif dan memarahi anak remajanya. Tak peduli seberapa marah atau kecewanya, lupakan kemarahan Anda –fokuslah pada jalan keluar dari masalah.

Disadari atau tidak, ada sejumlah ‘gaya’ orangtua yang tidak kondusif untuk mendorong anak-anak untuk curhat kepada orangtuanya. Di antaranya:

  • Judgmental: kita menghakimi mereka. Mereka salah dan kita (yang) benar. Ini bisa membuat enggan untuk curhat lagi. Sebaliknya, lakukan eksplorasi: tanyakan apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, dst. Setelah itu barulah kita memberikan opsi, solusi atau motivasi.
  • Emosional: kita mengeluarkan reaksi yang berlebihan sehingga anak ‘merasa bersalah’. Sebaiknya kita tahan dulu sambil mencari informasi dan bukti. Lalu dorong agar bercerita kepada orangtua supaya bisa diselesaikan.
  • Careless: kita kurang peduli, kurang memperhatikan curhat mereka. Misalnya: memotong/mengalihkan isu pembicaraan, menganggap tidak penting, atau menunjukkan sikap meremehkan. Akibatnya, jika ada teman –atau siapa saja– yang lebih peduli, otomatis anak remaja akan curhat kepada mereka daripada kita.
  • Membocorkan rahasia: Ketika anak remaja bercerita tentang persoalan yang sangat pribadi, misalnya, kita malah membocorkannya ke anggota keluarga yang lain.
  • Membosankan: terlalu diam, atau terlalu banyak bicara, atau terlalu ‘itu-itu saja’ nasehat dari kita. Maka agar tidak membosankan, variasi sangat diperlukan.

( sumber: https://ulyadays.com/tag/agar-anak-curhat-ke-orang-tua/ )

Leave your thought