Menolong di Kala Butuh Ditolong

07 Apr
0 comment

Menolong di Kala Butuh Ditolong; Ketika keadaan kita sedang baik, sedang banyak uang, atau suasana hati lagi senang-senangnya… maka menolong orang lain yang sedang kesusahan itu tidaklah berat, bahkan terasa indah untuk kita lakukan, terasa begitu menyenangkan. Bersedekah nasi bungkus kepada pengemis tua, ataupun pemulung yang sedang mengais-ngais sampah untuk sekedar mengisi perut tentulah sangat baik dan mudah untk dilakukan.

Taapiii… bagaimana kalau kondisi kita sedang susah..? Butuh uang..? Dikejar-kejar hutang..? lagi bad mood..? (dsb., dll..?) lalu ada orang yang datang minta bantuan kepada kita… masihkah kita berbuat hal yang sama..?

Muncullah ego pribadi, dan pikiran: “Saya aja lagi susah, butuh bantuan, dan tak seorang pun membantu saya… kenapa saya harus membantu dia..?”  Mungkin kita lupa: kesusahan itu bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan tanpa izin –tak peduli kita sedang good mood atau tidak.

Ujian mental

Di saat seperti inilah mental kita diuji. Mampukah kita mengalahkan diri sendiri..? Apakah kita lebih mementingkan diri sendiri..?

Berbagi dalam situasi-kondisi sedang dalam kesusahan itu memang benar-benar harus memiliki keikhlasan dan kerelaan berkorban yang tinggi. Dalam hal ini, ada kisah nyata yang dapat disimak untuk sekedar diambil hikmahnya, atau mungkin juga menginspirasi kita untuk dapat berbuat serupa…

Kisah ini diceritakan oleh seorang ayah dalam tulisannya yang sudah dimuat di Kompasiana, yaitu tentang perbuatan anaknya yang berusia 6 tahun. Pada suatu ketika, ada seorang ‘tamu tak diundang’ yang datang ke rumah beliau. Sang tamu adalah seorang ibu, datang dengan menggendong anaknya yang terkulai lemah. Ia ingin meminjam uang untuk membeli obat anaknya itu. Sementara sang tuan rumah (sang ayah yang sedang bercerita) masih termangu dalam kebingungan dan kebimbangan, sang anak justru sangat sigap… tanpa diminta dan disuruh, dia langsung masuk ke kamarnya, dan memecahkan celengannya yang terbuat dari tanah liat. Semua uang receh yang berjatuhan itu ia kumpulkan dan langsung diberikan kepada sang tamu, sambil berkata: “Papa, Mama, uangnya kita kasihkan ke ibu ini untuk beli obat anaknya yah..?”

Sang tamu pun menangis terharu. Begitu pula sang tuan rumah, menyaksikan putranya yang sebetulnya juga sedang sakit, namun tetap ikhlas memberikan uang yang sudah ia kumpulkan selama beberapa tahun untuk menolong orang lain.

Sekitar 40 tahun kemudian, anak yang sakit itu mengirimkan pesan kepada sang tuan rumah, bahwa ia ingin bertemu, dimana ia akan terbang dari Pekanbaru ke Jakarta untuk menyatakan rasa terima kasihnya. Dalam pesannya via WA, ‘si anak’ tersebut memperkenalkan diri: “Bapak, Ibu, perkenalkan, nama saya Syarifuddin. Berdasarkan cerita ibunda saya, putra Bapak semasa kecil dulu telah memberikan uang tabungannya kepada ibunda untuk membelikan obat untuk saya yang waktu itu sedang sakit parah. Sekarang usia saya sudah 49 tahun. Berkat doa Bapak dan Ibu, saya sudah menjadi pengusaha di Pekanbaru. Salam takzim dari ananda, Syarifuddin.”

Tanpa bermaksud ‘pamer’ ataupun menyanjung diri sendiri, sang penulis hanya ingin sharing bahwa ia merasa sangat bahagia ketika dapat menolong orang lain, dimana pertolongan itu dapat menjadi jalan ‘keselamatan’ bagi orang yang ia tolong, meski keadaannya pun sedang sulit –karena saat itu anaknya sendiri sedang sakit.

 

(sumber: Kompasiana)

Leave your thought