Sport Life Mengajak Anak Ke Pasar

16 Nov
0 comment

Sport Life Mengajak Anak Ke Pasar – Saat belanja ke pasar, sering mengajak serta si kecil nggak, Bun? Ternyata ada banyak manfaat jika kita mengajak mereka ke pasar, terutama ke pasar tradisional. Mereka bisa belajar banyak hal dari sini. Dari bersosialisasi, kedisiplinan hingga ketanggapan.

Meski rempong karena harus gendong si adik yang belum bisa berjalan, saya merasakan banyak manfaat ketika  membawa mereka ke pasar. Karena rumah saya nempel dengan pasar, setiap pagi saya ajak serta mereka berbelanja bahan-bahan untuk menu makan harian. Berikut 8 manfaat mengajak anak ke pasar.

Belajar bersosialisasi

Ketika berada di pasar, anak akan bertemu banyak orang dari yang tua hingga yang kecil, laki-laki maupun perempuan dengan bermacam karakter. Berhadapan dengan banyak orang membuat mereka secara tidak langsung belajar bersosialisasi. Karena sering ke pasar, biasanya mereka akan disapa oleh beberapa penjual sayur atau buah yang jadi langganan kami. Ternyata kebiasaan menyapa ini direkam oleh mereka. Saat bertemu dengan orang yang dikenalnya, mereka akan menyapanya. Bahkan, si adik yang masih 13 bulan, juga akan menyapa meskipun dengan, “Ehhhhh… Ahhhhh…” Hihihi.

Belajar bersosialisasi memudahkan mereka cepat beradaptasi saat berada di lingkungan baru. Anak saya yang pertama alhamdulillah dengan anak kecil yang baru dikenalnya akan mudah akrab, meski terkadang perlu waktu beberapa menit untuk menjadi pengamat dulu, baru kemudian main bersama. Kalau anak saya yang kecil memang perlu ‘digembleng’ lagi karena dia ini akan nangis jika bertemu dengan orang baru. Untungnya saat diajak ke pasar dia nggak pakai nangis, malah senang banget.

Tidak gagap keramaian

Saya pernah baca artikel di salah satu portal berita bahwa rasa ketidakpercayadirian ibu itu akan menurun ke anak. Bila ibunya takut dengan keramaian, maka anaknya pun akan begitu. Ya, karena jika ibunya sendiri tidak nyaman berada di tempat ramai, otomatis anak–yang diasuhnya–juga tidak terbiasa dengan keramaian.

Pun begitu, karakter bawaan anak juga turut menjadi faktor penyebab. Anak saya yang nomor dua ini sedari bayi dia takut sekali berhadapan dengan orang baru. Dengan kakeknya yang hampir tiap hari ketemu saja dia takut sampai nangis kejer. Saat itu dia hanya mau diajak oleh Bunda, Ayah atau neneknya. Ketika disapa oleh orang lain–baik yang asing atau tidak–dia mengira akan dimarahi sehingga membuatnya takut dan menangis. Repotnya saat berada di tempat ramai yang asing, dia akan rewel.

Untungnya saat diajak ke pasar dia justru suka cita. Ini tentu memudahkan saya untuk melatihnya agar terbiasa dengan keramaian. Alhamdulillah kini dia sudah mulai berani. Dengan orang yang dikenalnya, dia akan menyapanya ala bahasa dia, bahkan mau diajak oleh mereka. Ya, meski saat berada di lingkungan baru terkadang masih suka takut. Hihihi, perlu proses kali ya. :)

Membangun rasa percaya diri dan menumbuhkan keberanian

Saya biasanya akan membiarkan si kakak berjalan di depan saya. Terkadang dia tetap lurus ke depan sementara saya mau belok. Saat begini, saya manfaatkan untuk menguji mentalnya. Saya biarkan dia mencari bundanya. Terkadang dia jadi panik dan menangis. Karena banyak orang, sebelum tangisnya pecah saya panggil dia atau saya dekati. Entar saya dikira ibu tegaan. Hihihi.

Kebiasaan ini ternyata mampu membangun rasa percaya dirinya dan menumbuhkan keberaniannya lho, Bun. Jika dia bertemu dengan teman baru, tak butuh waktu lama bagi anak saya untuk berteman dengannya. Hanya kadang yang jadi kendala kalau si teman baru ini nyuekin, bahkan sampai ngencepin dsb. Sikap yang begini yang kadang membuat anak saya hanya diam, jadi pengamat saja. Bersyukurnya, dia tidak akan menangis hanya karena dicuekin atau diencepi. :)

Melatih kemandirian

Dengan membiarkan anak berjalan sendiri di depan kita juga bermanfaat sekali untuk melatih kemandirian anak. Bagaimana dia berani jalan di depan, mencari rute sendiri dan terkadang diuji mentalnya saat salah rute dan kehilangan jejak bundanya (tapi bundanya sebenarnya juga tetap mantau :D).

Meningkatkan ketanggapan dan kepedulian

Saat saya rempong membawa barang-barang belanjaan, biasanya si kakak sudah menawarkan diri dengan membawa salah satunya. “Yang ini biar aku yang bawain, Bun.” Kadang dia salah pilih bawa barang yang rada berat untuk tangan mungilnya. “Berat, Bun. Aku bawa yang ini saja.”

Awalnya, saya menawarkan si kakak untuk membantu membawakan salah satu barang belanjaan yang ringan. “Kakak bantuin bunda ya? Kakak mau bawain yang mana?” Tapi tetap tidak memaksanya, sehingga ia tidak merasa terbebani. Sekarang tanpa saya minta, dia sudah dengan sendirinya mau bantuin. :)

Mengenalkan sumber makanan yang sehat

Di pasar tentu banyak orang berjualan aneka macam sayur mayur dan buah-buahan. Dengan mengajak mereka ke pasar sejak kecil juga membantu mengenalkan pada mereka dengan berbagai macam sumber makanan yang sehat. Mereka tahu sayur bayam, wortel, brokoli, buah pepaya, jeruk, jambu dsb. Mereka biasanya akan kepo nanya, “Ini namanya apa, Bun? Kalau yang ini?” Jangan lupa juga beritahu si kecil manfaat jika suka mengonsumsi sayuran dan buah-buah ya, Bun.

Melatih disiplin jajan

Banyak yang bilang kalau mengajak serta anak ke pasar atau pusat perbelanjaan, maka akan membuat anak hobi jajan. Anak akan minta dibeliin ini atau itu. Bahkan mungkin sampai tantrum saat yang dia mau nggak diturutin bundanya.

Ah, ini tergantung bagaimana kita mendidiknya, Bun. Kalau sedari kecil kita ajari mereka membiasakan makan makanan yang sehat, memberi pengertian tentang manfaat makan makanan sehat, tidak jajan sembarangan, membatasi makanan/minuman yang boleh atau tidak dikonsumsi sesuai usianya dsb, insya Allah pelan-pelan anak akan terbiasa hidup sehat.

Seperti misalnya saat anak saya minta jenang mutiara yang ada di pasar, saya tidak membolehkannya dengan menerangkan kepadanya bahwa jenang mutiara-nya ada pemanis buatan, kalau makan tenggorokannya bisa serak. Ini betul lho, saya tidak sedang menakuti dengan membohonginya karena saya pernah merasakan sendiri. Agar tidak menyinggung, kita bisa mengajak anak menjauh dari penjualnya dulu.

Lewat pengertian dengan memberitahu akibatnya ternyata cukup efektif untuk anak saya. Bahkan dia jadi kritis sendiri. “Bun, kalau aku beli klepon disana, banyak lalatnya kan, Bun?”

“Iya. Belinya di tempatnya mbah minah saja, kalau disana karena sudah dikemasi jadi nggak dihinggapi lalat. Kalau dihinggapi lalat, nanti kakak bisa sakit perut.”

“Bun, kalau aku banyak makan permen, nanti gigiku bolong ya, Bun?

“Iya, makan permennya cukup satu saja atau nggak usah makan permen malah lebih bagus. Nanti kalau kebanyakan, gigi kakak bisa bolong. Kalau bolong bisa sakit.”

Mengajarkan kesederhanaan

Pergi ke pasar tradisional juga mengajarkan tentang kesederhanaan. Di tempat ini, anak akan berhadapan dengan orang-orang yang tampil sederhana. Jarang ada orang yang tampil mewah saat pergi ke pasar tradisional. Mungkin golongan seperti ini gengsi kalau pergi ke pasar. Hihihi.

Terkadang anak juga dihadapkan pada kondisi lorong pasar yang becek, banyak lumpur karena habis hujan. Ya, karena nggak semua anak mau jalan di tempat becek seperti ini karena jijik, takut kotor dsb.

Sport Life Mengajak Anak Ke Pasar

 

Sekolah Karakter Fikar School

Leave your thought