Mimpi Dan Bawah Sadar Berhubungankah?

28 Mar
0 comment

Banyak diantara kita yang seringkali penasaran dengan mimpinya sendiri, lalu berusaha kesana dan kemari mencoba mencari apa makna yang terkandung di balik mimpi. Tetapi ada juga yang bersikap biasa-biasa saja walau sebenarnya dalam tidur malamnya dia telah memipikan sesuatu yang ‘luar biasa’. Ada yang berkomentar, “Akh.. apalah artinya sebuah mimpi? Mimpi kan hanyalah sekedar bunga tidur !” Catatan ini tak hentak mengurai makna mimpi. Bagaimana sebenarnya mekanisme mimpi, atau secara sederhana bagaimana mimpi itu terjadi saat seseorang sedang tidur serta apakah mimpi itu terjadi karena alam pikiran kita yang tak terlampiaskan. Saya bukanlah seorang penafsir mimpi, maka barangkali dalam catatan ini Saya hanya sekedar membagi apa yang Saya pahami secara scientific tentang tidur, mimpi dan bawah sadar, sejauh proses pembelajaran Saya.

Sebelum mengurai tentang mimpi, barangkali pada kesempatan pertama Saya perlu menjelaskan tentang tidur karena sesungguhnya tidur dan mimpi bagaikan dua sejoli yang hampir setiap waktu selalu bersama dan memiliki hubungan yang sangat manis.

Tidur merupakan suatau keadaan dimana kesadaran seseorang berubah. Kondisi seseorang yang sedang tidur sesungguhnya dapat dipelajari dengan bantuan sebuah alat yang disebut elektroencelofalograf (EEG), yang mengukur perubahan elektris pada kulit kepala yang dihubungkan dengan aktifitas otak yang menghasilkan pola gelombang tertentu. Tidur dalam konteks ini bukanlah berarti kita tidak bergerak sama sekali secara fisiologis, juga bukan berarti hilangnya kepekaan pada realitas lingkungan. Pada tahap tertentu, seseorang bisa saja dapat berjalan dalam tidurnya dan bisa juga sewaktu-waktu bangun sesuai keinginannya. Analisa pola gelombang otak yang diukur dengan EEG menunjukkan adanya 5 tahapan tidur, 4 tahap berkaitan dengan kepulasan tidur dan tahap ke 5 disebut tidur REM (Rapid Eye Movement), yaitu tidur dengan gerakan mata yang cepat. Bila seseorang dalam keadaan jaga lalu menutup matanya dan rileks, gelombang otaknya yang bermain adalah alfa dan ini adalah tahap pertama. Saat mulai tidur, gelombang otaknya yang aktif disebut theta, ini adalah tahap kedua. Pada saat orang tidur dengan penuh kepulasan, yaitu pada tahap ketiga dan keempat, gelombang otaknya menjadi lebih lemah (delta). Nah, setelah melewati jam pertama dalam tidurnya, pola gelombang otak pada tahap pertama kembali aktif, tetapi yang bersangkutan tetap dalam kondisi tidur dan diikuti dengan gerakan mata yang cepat atau tidur REM. Tahap ini berselang-seling satu sama lain sepanjang malam saat kita tidur. Mimpi lebih sering terjadi sepanjang tahap tidur REM, dan mimpi yang terjadi pada saat tidur REM ini biasanya lebih mudah diingat.

Tentang gelombang otak, mungkin perlu sedikit uraian lebih lanjut. Saat seseorang dalam kondisi tidur dan saat seseorang dalam kondisi hypnosis, pola gelombang otaknya dapat dikatakan hampir sama atau bahkan sama. Seperti telah dijelaskan di atas, berkaitan dengan kondisi kesadaran seseorang, pengukuran gelombang otak dengan EEG menunjukkan ada 4 pola gelombang, yaitu beta, alfa, theta dan delta.

  • Beta merupakan gelombang otak yang palong banyak aktif ketika kita dalam kondisi sadar. Beta dihasilkan oleh aktifitas berpikir. Kisaran frekuensinya antara 12 – 15 Hz. Beta yang sangat tinggi berhubungan dengan kecemasan atau perasaan panic.
  • Alfa merupakan gelombang otak yang aktif saat kita dalam kondisi rileks, melamun, atau berfatansi. Frekuensi alfa berkisar antara 8 – 12 Hz dan berfungsi sebagai jembatan penghubung antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar/nirsadar. Alfa sangat penting karena membuat kita mampu menyadari apa yang sedang terjadi dengan diri kita saat dalam kondisi meditasi yang sangat dalam ataupun saat kita bermimpi.
  • Theta merupakan gelombang otak yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar, dengan frekuensi 4 – 8 Hz. Theta muncul saat kita bermimpi dan atau saat kita dalam tahap tidur REM. Pikiran bawah sadar mempunyai banyak fungsi, antara lain sebagai tempat menyimpan memori, emosi, persepsi, kepribadian, intuisi, dan masih banyak lagi. Jadi, jika hanya theta saja yang aktif dan tidak ada alfa atau beta maka informasi dari pikiran bawah sadar tidak bisa diakses dan dimengerti. Theta juga merupakan frekuensi yang menentukan level kedalaman meditasi atau khusyuk seseorang. Melalui gelombang theta kita menciptakan dan mengalami hubungan spiritual yang paling kuat, paling dalam, dan berkesan.
  • Delta merupakan gelombang yang paling lambat dan paling rendah frekuensinya, yaitu 0,5 – 4 Hz dan merupakan wilayah pikiran nirsadar (unconscious). Biasanya orang tidur dalam tanpa mimpi saat gelombang Delta aktif dan dominan. Pada orang tertentu gelombang delta mereka sangat aktif walaupun mereka dalam kondisi bangun/sadar. Orang seperti ini cenderung memiliki intuisi, empati, dan insting yang baik. Singkatnya seperti ini, secara ilmiah, saat kita mau tidur sampai tidur, secara berturut-turut gelombang otak akan naik dari delta, menuju theta, alfa dan akhirnya sampai di beta dan kita dalam kesadaran penuh alias terjaga dan bangun.

Kembali kepersoalan seputar mimpi. Mimpi memang telah melewati perjalanan panjang dalam diskusi para ahli. Mimpi merupakan perubahan kesadaran saat bayangan yang diingat dan fantasi sementara bercampur dengan kenyataan luar. Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisa, yang juga banyak menimbulkan kotroversi dengan teori-teorinya, membedakan antara isi mimpi yang nyata (manifest content) dan isi mimpi merupakan  sebuah harapan yang terselubung. Mungkin maksudnya, isi mimpi yang nyata berkaitan dengan pengalaman keseharian seseorang, sementara isi mimpi yang laten berkaitan dengan harapan atau kebutuhan yang ditekan (represses) dari pikiran sadar. Contoh sederhananya begini, siang hari atau beberapa saat sebelum tidur kita mengalami sebuah peristiwa yang menimbulkan gejolak emosi yang cukup intens (bisa positif bisa negatif).

Masih menurut Sigmund Freud mimpi adalah suatu manifestasi keinginan alam bawah sadar yang direpresi dalam alam sadar. Mimpi seperti yang menjadi kutipan terkenal Freud adalah jalan bebas hambatan menuju alam bawah sadar.

Alam bawah sadar adalah bagian terbesar dari pikiran. Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sanagt sulit dibawa  ke alam sadar, termasuk segala sesuatu yang memang asalnya alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke alam bawah sadar karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkait dengan trauma.

Sigmund Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita, apakah itu hasrat yang sederhana seperti makan atau seks, daya-daya neurotic, atau motif yang mendorong seorang seniman atau ilmuwan berkarya.

Namun anehnya, kita sering terdorong untuk mengingkari atau menghalangi seluruh bentuk motif ini naik ke alam sadar. Oleh karena itu, motif-motif itu kita kenali dalam wujud samar-samar.

Nah pengalaman ini bisa terbawa dalam mimpi saat malam hari ketika kita tidur (manifest content). Sementara itu, ketika kita memikirkan sebuah hasil nyata (outcome) dari usaha, misalnya memiliki sebuah rumah, dan kita terus memikirkannya berenergi tinggi (cinta kasih sayang, bangga) maka outcome ini bisa terbawa dalam mimpi saat kita tidur (isi mimpi laten).

Jadi menurut Saya, mimpi terjadi dalam pikiran bawah sadar kita. Pertanyaan penting dan dapat menggelitik berkaitan dengan konteks ini, dapatkah kita menciptakan mimpi kita dan membuat mimpi menjadi kenyataan?

Saya memiliki kepercayaan, jika kita sampai pada sebuah tiitk kesadaran dimana sesungguhnya mimpi dapat menjadi kenyataan. Jadi bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpimu.

Mimpi Dan Bawah Sadar Berhubungankah?

By Sekolah Karakter Fikar School

Leave your thought